Minggu, 08 Januari 2012

Langit, Aku, dan Kamu

Aku suka langit.


Kalau pagi, aku akan duduk-duduk di teras atas. Melihat ke hamparan sepetak sawah kecil di depan rumah yang mungkin beberapa tahun lagi akan berubah menjadi rumah-rumah juga. Menikmati perpaduan kontras warnanya. Hijau di bawah, biru di atas. Ya, mungkin dengan sedikit awan di langit sana. Diselingi beberapa burung beterbangan dan kadang juga pesawat terbang. Tidak apa. Aku tetap menikmatinya.
Dan kalau siang, ya, tentu saja aku tidak bisa memandang terlalu lama karena teriknya bisa sangat panas. Tapi kalau ada beberapa awan (seringnya ada), aku akan menikmatinya. Awan bentuknya selalu berbeda. Kadang sangat unik. Aku menyukainya.
Petang atau sore, ah aku juga menikmatinya. Tentu saja aku sering tidak bisa menikmatinya berlama-lama karena momen seperti itu biasanya ketika aku pulang kerja. Tapi aku akan tetap sebentar-sebentar menikmatinya kalau sedang terjebak di lampu merah atau kemacetan. Dan kalau hari libur atau minggu, ah, aku akan suka sekali, karena aku bisa menikmatinya berlama-lama. Ya. Berlama-lama.

Nah, malam adalah salah satu favoritku. Apalagi kalau sedang cerah. Bintangnya, bulannya. Ah, ini surga. Baiklah, anggap aku berlebihan, tapi aku benar-benar menyukainya. Kalau mendung pun tak apa. Aku akan duduk-duduk di teras juga, dengan secangkir susu hangat dan komputer jinjing serta buku-buku. Sesekali melirik langit di sana. Dalam gelap, cahaya apa pun terlihat sempurna. Ya. Sempurna. Karena itu aku juga menyukai malam.

Aku menyukai langit dan sering memandangnya baik sebentar-sebentar atau berlama-lama.

Alasannya sederhana. Aku dan kamu mungkin terpisahkan jarak, tapi aku selalu menenangkan diriku dengan melihat langit, karena sejauh apa pun, kita masih di bawah pelukan langit yang sama.

Ya. Sedikit banyak, itu bisa menenangkanku. Aku dan kamu. Langit yang sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.